BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam kehidupannya, manusia tidak akan
pernah bisa lepas untuk mencari nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya karena
kesehariannya manusia dihadapkan berbagai macam persoalan yang membutuhkan
penyelesaian. Dengan perkembangan iptek yang pesat ini persoalan hidup menjadi
lebih kompleks dan manusia pun semakin sulit mengatasi persoalan hidupnya. Di
saat kita manusia tidak bisa menyelesaikan atau mengatasi persoalan hidup. Kita
pasti lebih memilih lari dari masalah tersebut dan melakukan hal-hal yang
menyimpang seperti minuman-minuman keras, narkoba, dll. Dan bahkan tidak
sedikit dari mereka yang melakukan bunuh diri gara-gara tidak bisa mengatasi
persoalan kehidupan.
Di sinilah iman dan taqwa itu mengambil
perannya sebagai jalan keluar atau solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan
itu tersebut. Ketika seseorang telah bisa memahami dan menerapkan konsep dari
iman dan taqwa tersebut kedalam kehidupannya maka ia dapat mengatasi
permasalahan hidupnya. Jadi iman dan taqwa itu sangat penting bagi manusia
khususnya bagi kita pemeluk agama islam, agar mendekatkan kita kepada Allah
SWT. Dan menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa. Dengan begitu konsep iman dan
taqwa itu perlu untuk dikaji.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang masalah yang
dikemukakan diatas maka dapat dirumuskan permasalahan dari judul makalah
sebagai berikut :
1. Apa
pengertian iman dan taqwa dan hubungan antara keduannya ?
2. Apa
tanda dan wujud iman dan takwa tersebut ?
3.
Bagaimana cara menerapkan
konsep iman dan taqwa di kehidupan sehari-hari ?
4. Apa
peran iman dan taqwa dalam menjawab problema kehidupan modern ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Penulisan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas makalah agama islam dan menjawab pertanyaan yang ada pada
rumusan masalah.
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk
meningkatkan pengetahuan penulisan dan pembaca tentang konsep iman dan taqwa,
cara mengimplementasikannya ke kehidupan sehari-hari serta mengetahui bahwa
imtaq dapat menjawab problema kehidupan kita di masa yang modern ini.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1 Pengertian Iman
dan Taqwa
2.1.1 Pengertian Iman
Kata iman juga berasal dari kata kerja
amina-yu'manu – amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman berarti percaya
menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati.
Iman menurut bahasa adalah percaya atau
yakin, keimanan berarti kepercayaan atau keyakinan. Dengan demikian, rukun iman
adalah dasar, inti, atau pokok – pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh
setiap pemeluk agama Islam.
Secara sempurna pengertiannya adalah
membenarkan (mempercayai) Allah dan segala apa yang datang dari pada-Nya
sebagai wahyu melalui rasul-rasul-Nya dengan kalbu, mengikrarkan dengan lisan
dan mengerjakan dengan perbuatan.
Dalam surat al-Baqarah 165, dikatakan
bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta kepada Allah
(asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu, beriman kepada Allah berarti sangat
rindu terhadap ajaran Allah. Oleh karena itu beriman kepada Allah berarti amat
sangat menaati ajaran Allah yaitu Al-Quran dan sunnah rasul.
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan
dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan
amal perbuatan (al-Imaanu 'aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani wa'amalun bil
arkaan)
Istilah iman dalam al-qur'an selalu
dirangkaikan dengan kata lain yang memberikan corak dan warna tentang suatu
yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa': 51 yang dikaitkan dengan jibti
(kebatinan/Idealisme) dan thaghut (realita/nasionalisme). Sedangkan dalam surat
al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata bathil, yaitu wallaziina aamanuu bil
baathili. Bathil berarti tidak benar menurut Allah.Sementara dalam surat
al-Baqarah: 4 iman dirangkaikan dengan kata ajaran yang diturunkan oleh Allah.
Dengan demikian, kata iman yang tidak
dikaitkan dengan kata Allah atau ajaran nya, dikatakan sebagai iman haq,
sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya dinamakan iman bathil.
Keimanan adalah perbuatan yang bila diibaratkan
pohon, mempunyai pokok dan cabang. Bukankah sering kita baca atau dengar sabda
Rasullah saw. Yang kita jadikan kata-kata mutiara, misalnya malu adalah
sebagian dari iman, kebersihan sebagian dari iman, cinta bangsa dan Negara
sebagian dari iman, bersikap ramah sebagian dari iman, menyingkirkan duri atau
yang lainnya yang dapat membuat orang sengsara dan menderita, itu juga sebagian
dari iman. Diantara cabang - cabang keimanan yang paling pokok adalah keimanan
kepada Allah SWT.
2.1.2 Pengertian Takwa
Taqwa berasal dari kata waqa, yaqi ,
wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi.Sesuai dengan
makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat diartikan sikap memelihara keimanan
yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh dan konsisten (
istiqomah ).
Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu
berusaha melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam
kehidupan ini.
Karakteristik orang – orang yang bertaqwa,
secara umum dapat dikelompokkan kedalam lima kategori atau indicator ketaqwaan, yaitu :
a) Iman
kepada Allah, para malaikat, kitab – kitab dan para nabi. Dengan kata lain,
instrument ketaqwaan yang pertama ini dapat dikatakan dengan memelihara fitrah
iman. Mengeluarkan
harta yang dikasihnya kepada kerabat, anak yatim, orang – orang miskin, orang –
orang yang terputus di perjalanan, orang – orang yang meminta – minta dana,
orang – orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban
memerdekakan hamba sahaya. Indikator taqwa yang kedua ini, dapat disingkat
dengan mencintai sesama umat manusia yang diwujudkan melalui kesanggupan
mengorbankan harta.
b)
Mendirikan solat dan
menunaikan zakat, atau dengan kata lain, memelihara ibadah formal.
c) Menepati
janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan diri.
d) Sabar
disaat kepayahan, kesusahan dan diwaktu perang, atau dengan kata lain memiliki
semangat perjuangan.
2.2 Wujud Iman dan Taqwa
Akidah Islam dalam al-Quran disebut
iman.Seseorang dinyatakan beriman bukan hanya percaya terhadap sesuatu,
melainkan mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai
keyakinannya.Oleh karena itu lapangan iman sangat luas.
Akidah Islam atau iman mengikat seorang
muslim, sehingga ia terikat dengan aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh
karena itu menjadi seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala
sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam.
Menjaga mata, telinga, pikiran, hati dan
perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama, merupakan salah satu bentuk wujud
seorang muslim yang bertaqwa. Karena taqwa adalah sebaik–baik bekal yang harus
kita peroleh dalam mengarungi kehidupan dunia.
2.3 Tanda-Tanda Orang Yang
Beriman Dan Bertaqwa
2.3.1 Tanda-tanda Orang Beriman
Al-qur'an menjelaskan tanda-tanda orang
yang beriman sebagai berikut:
1.
Jika disebut nama Allah,
hatinya akan bergetar dan berusaha ilmu Allah tidak lepas dari syaraf
memorinya (al-anfal : 2)
2.
Senantiasa tawakal, yaitu
bekeja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah. (Ali imran : 120, Al maidah:
12, al-anfal : 2, at-taubah: 52, Ibrahim:11)
3.
Tertib dalam melaksanakan
shalat dan selalu melaksanakan
perintah-Nya. (al-anfal: 3, Al-mu'minun: 2, 7)
4.
Menafkahkan rizki yang
diterima dijalan Allah. (al-anfal: 3, Al-mukminun: 2, 7)
5.
Menghindari perkataan
yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan. (Al-mukminun: 3, 5)
6.
Memelihara amanah dan
menepati janji. (Al-mukminun: 6)
7.
Berjihad di jalan Allah
dan Suka menolong. (al-Anfal : 74)
8.
Tidak meninggalkan
pertemuan sebelum meminta izin. (an-nur: 62)
2.3.2 Ciri-ciri orang yang bertaqwa kepada swt
Ciri – ciri orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, yaitu :
1.
Teguh dalam keyakinan dan
bijaksana dalam pelaksanaannya.
2.
Tampak wibawanya karena
seuma aktivitas hidupnya dilandasi kebenaran dan kejujuran.
3.
Menonjol rasa puasnya
dalam perolehan rezeki sesuai dengan usaha dan kemampuannya.
4.
Senantiasa bersih dan
berhias walaupun miskin.
5.
selalu cermat dalam
perencanaan dan bergaya hidup sederhana walaupun kaya.
6.
Murah hati dan murah
tangan.
7.
Tidak menghabiskan waktu
dalam perbuatan yang tidak bermanfaat.
8.
Tidak berkeliaran dengan
membawa fitnah.
9.
Disiplin dalam tugasnya.
10. Tinggi
dedikasinya.
11. Terpelihara
identitas muslimnya (setiap perbuatannya berorientasi kepada terciptanya
kemaslahatan/kemanfaatan masyarakat).
12. Tidak
pernah menuntut yang bukan haknya serta tidak menahan hak orang lain.
13. Kalau
ditegur orang segera intropeksi. Kalau ternyata teguran tersebut benar maka dia
menyesal dan mohon ampun kepada Allah swt. serta minta maaf kepada orang yang
tertimpa oleh kesalahannya itu.
14. Kalau
dimaki orang dia tersenyum simpul sambil mengucapkan: "Kalau makian
anda benar saya bermohon semoga Allah swt. mengampuniku. Kalau teguran anda
ternyata salah, saya bermohon agar Allah mengampunimu.
2.4 Keterkaitan Iman Dan Taqwa
Pada prinsipnya, iman adalah syarat
sedangkan taqwa adalah tujuan. Kedudukan iman sebagai syarat menunjukkan bahwa
kewajiban melaksanakan ibadah puasa hanya dapat disahuti melalui wadah keimanan
ini. Mengingat bahwa nilai-nilai iman berfluktuasi maka sudah pasti nilai-nilai
puasa juga demikian. Oleh karena itu, melalui wadah iman ini pulalah maka
tujuan dari puasa yaitu menuju jenjang taqwa sangat mudah direalisasikan. Iman
dan taqwa merupakan dua sisi mata uang yang sangat sulit untuk dipisahkan dan
bahkan kedua-duanya saling membutuhkan. Dengan kata lain, jenjang taqwa tidak
akan pernah terwujud bila tidak diawali dengan keimanan dan keimanan itu
sendiri tidak akan memiliki nilai apa-apa bila tidak sampai ke derjat
ketaqwaan.
Perpaduan antara iman dan taqwa ini adalah
kemuliaan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu,
Al-Qur'an dengan tegas menyebutkan bahwa manusia yang paling mulia di sisi
Allah adalah orang-orang yang paling taqwa. Prediket kemuliaan ini sangat
ditentukan oleh kualitas taqwa, semakin tinggi tingkat ketaqwaan seseorang maka
semakin mulia pula kedudukannya pada pandangan Allah. Perpaduan antara iman dan
taqwa ini tidak akan terjadi secara otomatis karena iman memiliki persyaratan
untuk menuju nilai kesempurnaannya. Persyaratan ini dapat dilihat melalui
aturan-aturan yang diberlakukan kepada iman yaitu memadukan keyakinan dengan
perbuatan. Tanpa melakukan perpaduan ini maka iman akan selalu bersifat statis
karena berada pada tataran ikrar tidak pada tataran aplikasi. Oleh karena itu,
maka kata 'iman' selalu digandeng dalam Al-Qur'an dengan amal shaleh (amanu wa
'amilu alshalihat) supaya keberadaan iman terkesan lebih energik.
Penggandengan kata 'iman' dengan perbuatan
baik ini menunjukkan adanya upaya-upaya khusus yang harus dilakukan untuk
menjaga keeksisan iman itu sendiri. Perlunya upaya khusus ini karena posisi
manusia masih sangat labil jika masih berada pada level iman. Untuk menguatkan
posisi ini maka orang-orang yang beriman diperintahkan untuk melakukan
perbuatan-perbuatan baik untuk menuju kestabilan. Adapun yang dimaksud dengan
taqwa ialah kemampuan diri menjaga perpaduan ini secara kontiniu sesuai makna
dasar dari kata taqwa itu sendiri yaitu 'menjaga'. Dengan demikian, maka sifat
taqwa merupakan benteng untuk menjaga aturan-aturan Allah supaya posisi iman
tidak lagi berada dalam kelabilan. Kunci sukses yang ditawarkan Al-Qur'an untuk
menghindari kelabilan ini ialah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Dalam Al-Qur'an dijumpai beberapa perintah
kepada orang-orang yang beriman agar bertaqwa kepada Allah sebagaimana
disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah 278, Ali 'Imran 102, al-Maidah 35, al-Taubah
119, al-Ahzab 70, al-Hadid 28 dan al-Hasyr 18. Perintah-perintah ini
mengindikasikan bahwa iman belum mencapai kesempurnaannya tanpa mendapatkan
nilai taqwa. Berdasarkan hal ini maka orang-orang yang beriman harus cerdas
mencari mediator yang cocok untuk dijadikan jembatan menuju taqwa. Al-Qur'an
telah memberikan bimbingan kepada orang-orang Mukmin bahwa mediator yang paling
efektif untuk memfasilitasi hubungan iman dengan taqwa adalah ibadah.
2.5 Pengertian dan Rukun Iman
2.5.1
Pengertian & Rukun Iman
Menurut bahasa iman artinya percaya,
sedangkan menurut bahasa di yakini dengan sepenuh hati, di ucapkan dengan lisan
dan di amalkan dengan anggota badan . orang yang beriman disebut MU'MIN.
Berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits rukun
iman ada 6, yaitu:
1.
Iman
kepada Allah
Yaitu percaya sepenuh hati bahwa Allah
adalah Rabb Tuhan pencipta alam, Maha Kuasa, Maha Penyayang dan segala sifat
Maha lainnya. Untuk itu kita wajib beribadah dan meminta pertolongan hanya
kepada Allah.
2.
Iman
kepada Malaikat-malaikat Allah
Malaikat adalah makhluk Allah yang
diciptakan dari nur (cahaya). Malaikat selalu tunduk dan patuh atas perintah
Allah dan tidak pernah sedikitpun membantahnya. Malaikat merupakan makhluk
ghaib, artinya tidak dapat dilihat dengan panca indera manusia, namun kita
wajib iman dan percaya kepadanya. Jumlah malaikat sangatlah banyak, hingga tak
ada yang mengetahui jumlahnya, kecuali Allah.
3.
Iman
kepada Kitab-kitab Allah
Allah
menurunkan kitab-kitabNya kepada para Nabi sebagai pedoman umat manusia untuk
hidup didunia agar selamat dunia dan akhirat. Ada 4 kitab yang Allah turunkan
kepada para Nabi, yaitu :
a.
Kitab Taurat diturunkan
kepada Nabi Musa A.S.
b.
Kitab Zabur diturunkan
kepada Nabi Daud AS.
c.
Kitab Injil diturunkan
kepada Nabi Isa AS.
d.
Kitab Al-Qur'an diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW.
4.
Iman
kepada Nabi & Rasul-rasul Allah
Nabi adalah orang yang mendapat wahyu
hanya untuk dirinya sendiri, sementara Rasul artinya utusan, Rasul Allah adalah
utusan Allah yang mendapatkan wahyu untuk disampaikan kepada umatnya.
Tugas utama para rasul adalah menyampaikan
dan megajarkan agama Allah kepada manusia, serta memberikan petunjuk agar tidak
tersesat. Nabi dan Rasul yang wajib kita ketahui ada 25 orang. Yaitu :
Di antara 25 nabi dan rasul tersebut 5 di
antaranya mendapat gelar 'Ulul Azmi, yaitu para Nabi yang mendapat ujian sangat
berat dari Allah, namun mereka tetap tegar, tabah dan sabar
menghadapinya. Mereka adalah NUH, IBRAHIM, MUSA, ISA dan MUHAMMAD. Atau
disingkat NIMIM.
5.
Iman
kepada Hari akhir
Yaitu kita harus meyakini dengan sepenuh
hati bahwa hari kiamat pasti terjadi. Namun kapan terjadinya adalah rahasia
Allah, semua manusia tak ada satupun yang mengathuinya bahkan Nabi Muhammad
sekalipun tak tahu kapan akan terjadinya kiamat.
Ketika beliau SAW. Ditanya oleh Malaikat
Jibril tentang hari kiamat, belaiau tak tahu kapan terjadinya, namun beliau
memberikan tanda-tanda kiamat yang mendahului terjadinya kimat.
Di antara tanda-tadanya adalah :
a.
Banyak orang minum-minum
keras
b.
Banyak terjadi perzinahan
c.
Banyak gedung-gedung
tinggi
d.
Matahari terbit dari
barat dan terbenam di timur
e.
Keluarnya Ya'juz dan
Ma'juz
f.
Keluarnya Dajjal, dll.
6.
Iman
kepada Qodho dan Qodhar
Beriman kepada Qodho dan qodhar adalah meyakini
dengan sepenuh hati bahwa Allah telah memnentukan dan menetapkan segalanya
untuk manusia. Qodho & Qodar adalah ketetapan Allah bagi makhluk Nya.
Ketetapan Allah kadang berupa hal-hal yang baik dan kadang berupa hal-hal yag
buruk. Maka seorang mu'min akan meyakini dan tunduk pada ketetapan Allah baik
maupun buruknya.
Beriman kepada qada dan qadar merupakan
salah satu rukun iman di mana kita wajib mengimaninya agar iman kita menjadi
sah dan sempurna. Ibnu Abbas pernah berkata, "Qadar adalah nidzam (aturan)
tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar, maka
tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan mendustakan
qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya" (Majmu' Fataawa Syeikh
Al-Islam).
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai
iman kepada qada dan qadar, terlebih dahulu akan dibahas mengenai qada dan
qadar itu sendiri. Qada menurut bahasa berarti hukum, perintah,
memberikan, menghendaki, dan menjadikan. Sedangkan qadar berarti batasan
atau menetapkan ukuran.
Secara etimologi, qada dapat diartikan
sebagai pemutusan, perintah, dan pemberitaan. Imam az-Zuhri berkata,
"Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian
yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan…."
(An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Al-Atsir). Sedangkan qadar
berasal dari kata qaddara, yuqaddiru, taqdiiran yang berarti penentuan.
Dari sudut terminologi, qadha adalah
pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT pada zaman azali.
Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan
(qadha). Sedangkan arti terminologis qada dan qadar menurut Ar-Ragib
ialah :
"Qadar ialah menentukan batas
(ukuran) sebuah rancangan; seperti besar dan umur alam semesta, lamanya siang
dan malam, anatomi dan fisiologi makhluk nabati dan hewani, dan lain-lain;
sedang qada ialah menetapkan rancangan tersebut."
Atau secara sederhana, qada dapat
diartikan sebagai ketetapan Allah yang telah ditetapkan tetapi tidak kita
ketahui. Sedangkan qadar ialah ketetapan Allah yang telah terbukti dan
diketahui sudah terjadi. Dapat pula dikatakan bahwa qada adalah ketentuan
atau ketetapan, sedangkan qadar adalah ukuran. Dengan demikian yang
dimaksud dengan qada dan qadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan
Allah menurut ukuran atau norma tertentu.
Firman Allah mengenai qada dan qadar
terdapat dalam surat Al Ahzab ayat 36, yaitu :
Arti : Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
Selain itu, Allah juga berfirman dalam surat Al Qamar ayat 49, yakni :
Arti : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
Beriman kepada qada dan qadar berarti mengimani rukun-rukunnya. Iman kepada qada dan qadar memiliki empat rukun, antara lain :
Arti : Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
Selain itu, Allah juga berfirman dalam surat Al Qamar ayat 49, yakni :
Arti : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
Beriman kepada qada dan qadar berarti mengimani rukun-rukunnya. Iman kepada qada dan qadar memiliki empat rukun, antara lain :
·
Ilmu Allah SWT
Beriman kepada qada dan qadar berarti
harus beriman kepada Ilmu Allah yang merupakan deretan sifat-sifat-Nya sejak
azali. Allah mengetahui segala sesuatu. Tidak ada makhluk sekecil
apa pun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia ketahui. Dia mengetahui
seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Dia juga mengetahui kondisi dan
hal-hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi di masa yang akan datang.
·
Penulisan Takdir
Sebagai mukmin, kita harus percaya bahwa
segala sesuatu yang terjadi, baik di masa lampau, masa kini, maupun masa yang
akan datang, semuanya telah dicatat dalam Lauh Mahfuzh dan tidak ada sesuatu
pun yang terlupakan oleh-Nya.
Masyi'atullah (Kehendak Allah) dan Qudrat
(Kekuasaan Allah).
Seorang mukmin yang telah mengimani qada
dan qadar harus mengimani masyi`ah (kehendak Allah) dan kekuasaan-Nya yang
menyeluruh. Apapun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun manusia tidak
menginginkannya. Begitu pula sebaliknya, apa pun yang tidak dikehendaki pasti
tidak akan terjadi meskipun manusia memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan
dikarenakan Allah tidak mampu melainkan karena Allah tidak menghendakinya.
·
Pencipta adalah Allah
Ketika beriman terhadap qada dan qadar,
seorang mukmin harus mengimani bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, tidak
ada Khaliq selain-Nya dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain Dia.
Inilah empat rukun beriman kepada qada dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara empat rukun ini diabaikan atau didustakan, niscaya kita tidak akan pernah sampai kepada gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan rukun-rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qada dan qadar dan ketika bangunan iman itu rusak, maka hal tersebut juga akan menimbulkan kerusakan pada bangunan tauhid itu sendiri.
Inilah empat rukun beriman kepada qada dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara empat rukun ini diabaikan atau didustakan, niscaya kita tidak akan pernah sampai kepada gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan rukun-rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qada dan qadar dan ketika bangunan iman itu rusak, maka hal tersebut juga akan menimbulkan kerusakan pada bangunan tauhid itu sendiri.
Ada empat macam takdir, antara lain :
o Takdir
Umum (Takdir Azali)
Takdir mengenai segala sesuatu yang
ditetapkan sebelum penciptaan langit, bumi, dan seluruh isinya.
o Takdir
Umuri
Takdir yang diberlakukan atas manusia pada
masa awal penciptaannya dan bersifat umum. Meliputi rizki, ajal, kebahagiaan,
dan kesengsaraan.
o Takdir
Samawi
Takdir yang dicatat pada malam Lailatul
Qadar setiap tahun.
o Takdir
Yaumi
Takdir yang dikhususkan untuk semua
peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rizki,
menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan
sebagainya.
Allah berfirman dalam surat Ar Rad ayat 11 :
Arti : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Allah berfirman dalam surat Ar Rad ayat 11 :
Arti : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa akidah Islam yang terangkum dalam Rukun Iman merupakan landasan bagi
setiap umat Islam dalam mempelajari dan mengimplementasikan agama Islam dalam
kehidupan sehari-hari. Selain itu, penerapan akidah yang baik dan benar
dapat mendatangkan manfaat bagi kita, misalnya memberikan ketenteraman jiwa,
mewujudkan kehidupan yang baik, melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen serta
dapat meningkatkan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT.
2.6 Implementasi Konsep Iman Dan Takwa Dalam
Kehidupan Sehari-Hari
Iman
sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa iman, ibadah yang dilakukanakan
sia-sia, bahkan amal yang dilakukan tidak akan sampai kepada Allah SWT,
sepertiyang dijelaskan dalam Al-Qur'an surat An-Nabia ayat 94, yang artinya.
"Barang
siapa yang megerjakan amal sholeh, sedang ia beriman, maka usahanya
tak akan terabaikan. Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalan itu
untuknya"
Keimanan
dan ketaqwaan yang dianugerahkan Allah SWT untuk kaumnya haruslah disyukuri dan
diperkuat dengan cara meningkatkan ibadah amal, misalnya disamping menjalankan ibadah wajib
(sholat, zakat, puasa), juga menjalankan ibadah sunnah,misalnya dengan membayar
infaq dan sedekah.
Berikut
penerapan iman dan taqwa dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut:
a) Menjalankan
keenam rukun iman.
b) Menaati
perintah Allah dan beramal sholeh untuk mendapatkan ridhlo Allah
c) Membersihkan
diri dari hal-hal yang diharamkan (menghindari keharaman)
d) Ringan
tangan atau saling membantu sesama manusia.
e) Menjaga
aurat pada dirinya sesuai dengan ajaran agama.Ada sebuah hadist yang
menyatakan,bahwa Rosulullah SAW bersabda:"Barang siapa bisa
menjamin diantara kedua mulut (bibir)nya (bibir atas dan bawah),niscaya
aku akan menjadi surganya".
f) Menjaga
amanah dan menepati janji. Sebagai orang yang beriman dan
bertaqwa haruslah bisa menjaga amanah yang diberikan kepada dirinya dan
berusahalah untuk selalu menepati janji selagi masih mampu.
Menjaga
sholat wajib. Menjaga sholat dalam kehidupan sehari-hari bukan persoalan yang
mudah. Menjaga sholat ini berarti orang tersebut bisa menjaga waktunya, dia
selalu sholat tepat waktu dan tidak menunda-nunda sholatnya. Disamping sholat
tepat waktu orang tersebut juga menjaga cara dan bacaannya dengan benar sesuai
dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Disamping itu juga
harus bisa menjaga efek positif dari sholat, yaitu dengan benar-benar
menghayati dan melaksanakan apa yang telah dibaca dalam melaksanakan sholat.
g) Selalu
siap untuk menghadapi kematian sebagaimana dari rukun iman.
Penerapan iman dan taqwa dalam kehidupan
di atas, memang telah dilakukan oleh sebagian anak muda. Namun,sebagian darinya
masih juga kurang sepenuhnya menerapkan iman dan taqwanya dalam kehidupan
sehari-hari. Banyak masalah yang muncul akibat kurang kokohnya iman dan taqwa
yang tertanam dalam diri masing-masing individu. Ada beberapa faktor penyebab
munculnya masalah berkurangnya kekuatan iman dan taqwa dalam diri, sebagai
berikut:
1.
Tidak mengenal siapa
Allah SWT.
2.
Lalai dan memalingkan diri
dari rambu-rambu agama.
Tidak
memperhatikan ayat-ayat Allah dan hukum-hukumNya, baik yang bersifat kauni
maupun syar'i.Sesungguhnya kelalaian dan sikap tidak mau tahu semacam itu pasti
akan membuat hati menjadi sakit atau bahkan mati karena belitan syubhat
dan jeratan syahwat yangmerasuki hati dan sekujur tubuhnya.
3. Berbuat
atau mengutarakan ucapan maksiat.
Oleh
karena itulah iman akan turun,melemah dan surut sebanding dengan tingkatan
maksiat, jenisnya, kondisi hati orang yang melakukannya serta kekuatan faktor
pendorongnya. Iman akan banyak sekali berkurang dan menjadi sangat lemah
apabila seorang hamba terjerumus dalam dosa besar, jauh lebih parah dan
lebih mengenaskan daripada apabila dia terjerembab dalam dosa kecil. Berkurangnya
keimanan karena kejahatan membunuh tentu lebih besar daripada akibat
mengambil harta orang. Sebagaimana iman akan lebih banyak berkurang
dan lebih lemah karena dua buah maksiat daripada akibat melakukan satu maksiat.
Demikianlah seterusnya. Oleh sebab itulah orang miskin yang sombong dan
orang tua bangka yang berzina dosanya lebih besar daripada dosa orang kaya
yang sombong dan perbuatan zina seorang yang masih muda. Hal itu sebagaimana
dikisahkan di dalam hadits.
Ada
tiga golongan orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah dan
tidak akan diperhatikan oleh-Nya pada hari kiamat´.Dan di antara mereka
itu adalah orang tua beruban yang berzina danorang miskin yang sombong.
4. Meninggalkan
ketaatan, baik berupa keyakinan, ucapan, maupun amalan fisik.
Sebab
iman akan semakin banyak berkurang apabila ketaatan yang ditinggalkan juga
semakin besar. Apabila nilai suatu ketaatan semakin penting dan semakin prinsip
maka meninggalkannya pun akan mengakibatkan penyusutan dan keruntuhan
iman yang semakin besar dan mengerikan. Bahkan terkadang dengan
meninggalkannya bisa membuat pelakunya kehilangan iman secara total,
sebagaimana orang yang meninggalkan shalat sama sekali. Perlu diperhatikan pula
bahwa meninggalkan ketaatan itu terbagi menjadi dua. Pertama, ada yang menyebabkan
hukuman atausiksa yaitu apabila yang ditinggalkan adalah berupa kewajiban dan
tidak ada alasan yang hak untuk meninggalkannya. Kedua, sesuatu yang tidak akan
mendatangkan hukuman dan siksa karena meninggalkannya, seperti : meninggalkan
kewajiban karena udzur syar'i (berdasarkan ketentuan agama) atau hissi
(berdasarkan sebab yang terindera), atau tidak melakukan amal yang hukumnya
mustahab/sunnah.Contoh untuk orang yang meninggalkan kewajiban karena udzur
syar'i atau hissi adalah perempuan yang tidak shalat karena haidh. Sedangkan
contoh orang yang meninggalkan amal mustahab/sunnah adalah orang yang tidak
mengerjakan shalat Dhuha
BAB
III
PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Permasalahan
Di kehidupan yang sangat modern ini
perkembangan iptek sangat pesat tetapi walau perkembangan iptek ini sudah maju,
permasalahan hidup manusia bukan lebih sedikit atau lebih mudah tapi malah
menjadi lebih kompleks dan ragam permasalahannya pun bertambah banyak. Terdapat
beberapa contoh problem dalam kehidupan modern di antara :
1)
Perekonomian
2)
Putus asa
3)
Kegelisahan atau bimbang
4)
Kekecewaan, dll
Permasalah di kehidupan dapat
dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
a)
Faktor Ekonomi :
Kemiskinan, pengangguran, dll.
b)
Faktor Budaya : Perceraian,
kenakalan remaja, dll.
c)
Faktor Psikologis :
Penyakit syaraf, aliran sesat, dll.
o Faktor
Ekonomi, faktor ini merupakan faktor terbesar terjadinya masalah sosial.
Apalagi setelah terjadinya krisis global PHK mulai terjadi di mana-mana dan
bisa memicu tindak kriminal karena orang sudah sulit mencari pekerjaan. Inilah
yang menimbulkan masalah keputusasaan.
o Faktor
Budaya, Kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang sampai saat ini sulit
dihilangkan karena remaja sekarang suka mencoba hal-hal baru yang berdampak
negatif seperti narkoba.
o Faktor
Psikologis, Aliran sesat sudah banyak terjadi di Indonesia dan meresahkan
masyarakat itu semua karena kegelisahan dan kebimbangannya di jiwa mereka.
3.2 Pembahasan
Peran
Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern. Dalam kaitan ini, iman
dan taqwa yang dapat berperan menyelesaikan problema dan tantangan kehidupan
modern tersebut. Peran
Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern. Pengaruh iman terhadap
kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat
dan pengaruh iman pada kehidupan manusia:
·
Iman melenyapkan
kepercayaan pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya percaya
pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan pertolongan,
maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya. Sebaliknya,jika Allah
hendak menimpakan bencana, maka tidak ada satu kekuatanpun yang sanggup menahan
dan mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan demikian menghilangkan sifat
mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, menghilangkan
kepercayaan pada kesaktian benda-benda keramat, mengikis kepercayaan pada
khufarat, takhyul, jampi-jampi dan sebagainya. Pegangan orang yang beriman
adalah firman Allah surat Al Fatihah ayat 1-7.
·
Iman menanamkan semangat
berani menghadapi maut
Takut
menghadapi maut menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara manusia
yang tidak berani mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang
yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang
beriman mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah: “Dimana saja kamu berada,
kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun kamu di benteng yang tinggi
lagi kokoh.( An Nisa 4: 78)”.
·
Iman menanamkan sikap
self help dalam kehidupan
Rezeki
memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan
pendirian bahkan tidak segan-segan melepaskan prinsip,menjual
kehormatan,bermuka dua,menjilat dan memperbudak diri karena kepentingan materi.
Pegangan orang beriman dalam hal ini adalah firman Allah:
“Dan tidak ada satu
binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis
dalam kitab yang nyata (lauhul mahfud)” (Hud,
11:6).
·
Iman memberikan
kententraman jiwa
Acapkali manusia dilanda resah dan duka
cita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang beriman
mempunyai keseimbangan , hatinya tentram(mutmainah), dan jiwanya
tenang(sakinah), seperti dijelaskan firman Allah: “…..(yaitu) orang-orang yang beriman dan
hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya dengan
mengingat Allah hati menjadi tentram”
(Ar-Ra'd,13:28).
·
Iman mewujudkan kehidupan
yang baik (hayatan tayyibah)
Kehidupan
manusia yang baik adalah kehidupan orang yang selalu melakukan kebaikan dan
mengerjakan perbuatan yang baik. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah :
“Barang siapa yang
mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahal yang lebih baik
dari apa yang mereka kerjakan"(An
Nahl, 16:97).
·
Iman melahirkan sikap
ikhlas dan konsekuen
Iman
memberi pengaruh pada seseorang untuk selalu berbuat ikhlas, tanpa pamrih ,
kecuali keridaan Allah. Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang
telah diikrarkannya, baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa
berfirman pada firman Allah:
“Katakanlah : Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam”(Al-An'aam, 6:162).
·
Iman memberikan
keberuntungan
Orang
yang beriman selalu berjalan pada arah yang benar karena Allah membimbing dan
mengarahkan pada tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman
adalah orang yang beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
“Mereka itulah yang tetap
mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”(Al-Baqarah, 2:5).
·
Iman mencegah penyakit
Ahlak,
tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh
manusia mukmin dipengaruhi oleh iman.
Jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip
iman, tidak mengacuhkan azas moral dan ahlak, merobek-robek nilai kemanusiaan
dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat kepada Allah, maka orang yang
seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh kepanikan dan ketakutan.
Hal itu akan menyebabkan tingginya hormon
adrenalin dan persenyawaan kimia lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh
yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya
keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran
proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itulah timbullah gejala
penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta hidupnya selalu
dibayangi oleh kematian.
Demikianlah pengaruh dan manfaat
iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada
dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap perilaku
hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang yang beriman, maka
akan terbentuk masyarakat yang aman, tentram, damai, dan sejahtera.
BAB
IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Agama islam bukanlah hambatan untuk perkembangan
iptek tapi justru agama islam bisa lebih mengembangkan dan memperbaiki iptek
itu. Dan dengan adanya agama islam permasalahan-permasalahan yang muncul
seiring dengan perkembangan iptek ini dapat diatasi atau diselesaikan. Dengan
cara tetap menerapkan konsep iman dan taqwa tersebut dalam kehidupan kita,
dengan begiu kemajuan iptek tidak membuat kemerosotan moral pada diri manusia.
Dengan adanya hubungan yang dinamis antara
agama dan modernitas, maka diperlukan upaya untuk menyeimbangkan pemahaman orang
terhadap agama dan modernitas. Pemahaman orang terhadap agama akan melahirkan
sikap keimananan dan ketaqwaan (Imtaq), sedang penguasaan orang terhadap ilmu
pengetahuan dan teknologi (Iptek) di era modernisasi dan industrialisasi mutlak
diperlukan. Dengan demikian sesungguhnya yang diperlukan di era modern ini
tidak lain adalah penguasaan terhadap Imtaq dan Iptek sekaligus. Salah satu
usaha untuk merealisasikan pemahaman Imtaq dan penguasaan Iptek sekaligus
adalah melalui jalur pendidikan. Dalam konteks inilah pendidikan sebagai sebuah
sistem harus didesain sedemikian rupa guna memproduk manusia yang seutuhnya.
Yakni manusia yang tidak hanya menguasai Iptek melainkan juga mampu memahami
ajaran agama sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
4.2 Saran
Pada dasarnya dalam kehidupan modern, kita
sebagai manusia tidak bisa terlepas dari iman dan taqwa. Karena dengan kita
beriman dan bertaqwa, kita dapat mencegah dan menyelamatkan diri dari hal-hal
yang menyesatkan atau dari segala sesuatu yang tidak baik. Selain itu,
kita juga dapat menentukan apakah modernisasi tersebut dianggap sebagai suatu
kemajuan atau tidak, dipandang bermanfaat atau tidak, diperlukan atau
sebaliknya perlu dihindari.
No comments:
Post a Comment